Kerajaan Majapahit yang
merupakan salah satu kerajaan terbesar di Indonesia didirikan oleh Raden Wijaya
10 november 1293 Masehi di Jawa Timur. Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu
terakhir di Semenanjung Malaya yang luas wilayahnya hingga Pulau Sumatera,
Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, dan Filiphina.
Sejarah kerajaan
majapahit awal berdirinya kerajaan majapahit ialah dari runtuhnya kerajaan
Singasari yang merupakan kerajaan paling kuat di Jawa saat itu. Kekuatan
kerajaan Singasari sampai mengambil perhatian penguasa di Tiongkok, bernama
Kubilai Khan yang mengirimkan utusannya bernama Meng Chi ke kerajaan Singasari
untuk menuntut upeti dan meminta kerajaan Singasari untuk takluk ke Cina. Raja Kertanegara yang
saat itu sedang memerintah kerajaan Singasari menolak tawaran tersebut sampai
mempermalukan Meng Chi dan merusak wajahnya. Mendengar hal itu, Kubilai Khan
marah besar dan berangkat ke pulau Jawa tahun 1293.
Sesampainya di pulau
Jawa, Kubalai Khan dan bala tentaranya mengetahui ternyata Raja Kertanegara
telah dibunuh oleh sepupu, ipar sekaligus besannya sendiri yaitu Raja
Jayakatwang untuk membalas dendam karena leluhurnya Raja Kertajaya dibunuh oleh
Ken Arok (Pendiri kerajaan Singasari).
Mengetahui bahwa
mertuanya Raja Kertanegara telah terbunuh, Raden Wijaya bersama pengikutnya
mengungsi ke Madura dan meminta perlindungan dari Wiraraja, adipati Sumenep.
Raden Wijaya dan pengikutnya diterima baik oleh Wiraraja.
Awal
Berdirinya Kerajaan Majapahit
Menyerahkan diri ke
Jayakatwang
Atas usul dari
Wiraraja, Raden Widjaya kembali ke Kediri dan menyerahkan diri untuk mengabdi
kepada Jayakatwang. Raden Wijaya selalu menunjukan sikap yang baik dan setia
kepada Jayakatwang, sehingga ia mendaptkan kepercayaan. Mengetahui Jayakatwang
suka berburu, Raden Wijaya mengajukan usul untuk membuka hutan Tarik, dengan
alasan untuk mempermudah perburuan.
Desa Majapahit dimulai dari hutan Tarik
Setelah mendapatkan
ijin dari Jayakatwang, Raden Wijaya pun menebang hutan Tarik dengan dibantu
orang-orang Madura yang dikirim oleh Wiraraja. Menurut Pararaton dijelaskan
ketika orang-orang madura melakukan penebangan hutan, mereka memakan buah maja
yang ada di dalam hutan dan buah itu terasa pahit. Sejak saat itulah
orang-orang menyebut tempat pemukiman baru itu dengan nama Majapahit, kata
“maja” diambil dari nama buah dan “pahit” dari rasa buah itu.
Dikarenakan lokasi
Majaphit yang strategis, tidak jauh dari sungai Brantas maka banyak penduduk
yang berdatangan dan menetap disana. Ditambah lagi orang-orang madura yang
membantu membuka hutan juga menetap di Majapahit. Sehingga dalam waktu yang
cepat, Majapahit menjadi desa yang ramai.
Terbentuknya kerajaan
Majapahit
Raden Wijaya mulai
mengatur strategi untuk melawan kekuasaan Raja Jayakatwang karena sudah merebut
tahta keluarganya. Hubungan rahasia dengan Wiraraja terus berjalan untuk siasat
penyerangan. Di Madura, Wiraraja juga sudah menyiapkan pasukan untuk dikirim ke
Majapahit melawan Kediri jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Masih dalam tahun 1293
setibanya di Pulau Jawa dan mengetahui perubahan politik yang terjadi. Pimpinan
tentara Mongol mengirim tiga perwira ke Majapahit dan bertemu dengan Raden
Wijaya.
Kedatangan Mongol
dimanfaatkan dengan baik oleh Raden Wijaya untuk mencapai tujuannya menjatuhkan
kekuasaan Jayakatwang.Tentara Mongol pun menerima tawaran Raden Wijaya untuk
menghancurkan Jayakatwang, bersama tentara Madura yang dipimpin oleh Wiraraja.
Dalam pertempuran ini Kediri berhasil dikalahkan dan Raja Jayakatwang ditawan
dan dibunuh. Hancurlah kekuasaan Kediri dengan roda pemerintahan Jayakatwang
yang hanya satu tahun.
Setelah peperangan
berakhir, Raden Wijaya memutuskan kembali ke Majapahit dan secara mendadak
berbalik menyerang tentara Mongol. Tentara mongol yang mendapatkan serangan
mendadakpun menderita kekalahan besar dan kembali ke negerinya. Dengan hancurnya
kekuasaan Jayakatwang dan tentara Mongol kembali ke negaranya, maka tercapailah
perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan baru, yaitu kerajaan Majapahit pada tahun 1293.
Kondisi politik
kerajaan Majapahit
Raden Wijaya
Pada tahun 1293 Raden
Wijaya merupakan Raja Majapahit pertama dengan gelar Kartarajasa Jayawardha dan
mulai menyusun roda pemerintahannya. Semua pengikutnya yang setia dan selalu
berjasa dalam masa-masa perjuangannya diangkat memiliki jabatan tertinggi dalam
roda pemerintahannya. Wiraraja yang memiliki jasa besar dalam berdirinya
kerajaan Majapahit diberikan tahta tertinggi dan wilayah kekuasaan di Majapahit
bagian timur, yaitu daerah Lumajang sampai Blambangan.
Raden Wijaya mampu
membuat roda pemerintahan yang kuat dan stabil dan membuat kerajaan terus
berkembang. Hingga akhirnya pada tahun 1309 Raden Wijaya wafat dan didharmakan
dalam candi Siwa disamping candi Sumberjati.
2. Jayanegara
Raden Wijaya memerintah
kerajaan Mapahit dari tahun 1293-1309 Masehi dan di gantikan oleh putranya
yaitu Jayanegara yang memerintah dari tahun 1309 sampai dengan 1328 Masehi.
Jayanegara menerima tahta ketika usianya masih 15 tahun, berbeda dengan
ayahnya, Jayanegara tidak mempunyai kemampuan dalam menjalankan roda
pemerintahan. Sehingga ia dijuluki “Kala Gemet” yang artinya lemah dan jahat.
Selama masa
pemerintahan Jayanegara banyak pemberontakan dimana-mana, salah satu dari
pemberontakan itu di lakukan oleh seorang kepercayaan raja bernama Ra Kuti.
Namun pemberontakan yang di lakukan oleh Ra Kuti berhasil digagalkan oleh Gajah
Mada, seorang pasukan pengawal raja. Gajah Mada berhasil menyelamatkan
Jayanegara dan mengungsikannya ke sebuah desa bernama badander. Namun
malangnya, Jayanegara wafat karena operasi yang di lakukan seorang tabib
bernama Tancha, yang sudah menaruh dendam terhadap Jayanegara. Mengetahui hal
itu, Tancha pun dibunuh oleh Gajah Mada.
Karena Jayanegara tidak
mempunyai keturunan yang bisa menggantikan kekuasaannya, maka tahtanya
digantikan oleh adiknya yang bernama Gayatri, dengan gelar Tribuana Tunggadewi
dari tahun 1328 Masehi-1350 Masehi.
3. Tribuana Tunggadewi
Saat masa pemerintahan
Gayatri atau Tribuana Tunggadewi, sekitar tahun 1331 Masehi sempat terjadi
pemberontakan kembali di sadeng dan keta, Jawa Timur. Pemberontakkan yang
terjadi berhasil diselesaikan oleh Gajah Mada. Atas segala jasa yang dilakukan
Gaja Mada, ia diangakat menjadi Mahapatih di kerajaan Majapahit.
Pada saat
pengangkatannya Gajah Mada menjadi Mahapatih, ia membuat sumpah yang sangat
terkenal dengan sumpah palapa. Yang isinya mengatakan bahwa Gajah mada tidak
akan bersenang-senang sebelum mampu menyatukan nusantara.
4. Hayam Wuruk dan
Gajah Mada
Pada tahun 1350 Masehi,
Tribuana Tunggadewi meninggal dan tahtanya beralih ke putranya yang bernama
Hayam Wuruk yang memerintah dari tahun 1350 Masehi-1389 Masehi. kerajaan
Majapahit berkembang besar dan pesat sejak masa pemerintahan Hayam Wuruk dan
mahapatihnya Gajah Mada.
Puncak
kejayaan kerajaan Majapahit
Hayam Wuruk bersama
mahapatihnya, Gajah Mada berhasil membawa kerajaan Majapahit mencapai puncak
kejayaannya dari tahun 1350-1389 Masehi. Selama masa pemerintahannya, kerajaan
Majapahit menguasai banyak wilayah dan memilki hubungan sampai ke luar negri
seperti Campa, Kamboja, Siam, Birma selatan, Vietnam bahkan sampai mengirim
duta-duta kerajaan Majapahit ke Tiongkok. Pada masa itu luas wilayah kerajaan
Majapahit sama dengan wilayah Indonesia yang sekarang.
Ditambah pula dengan
perkembangan karya sastra, kemajemukan budaya, agama dan adat istiadat yang
mengalami kemajuan pesat dan perubahan yang membuat kerajaan Majapahit semakin
disegani. Pada tahun 1355 Masehi sudah
ada dua kitab terkenal, yaitu kitab Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu
Prapanca, kitab Sutasoma dan kitab Arjunawijaya yang ditulis oleh Mpu tantular.
Wafatnya
Gajah Mada
Menurut kitab Kakawin
Nagarakretagama, Hawam Wuruk selepas upacara keagamaan di Simping menjumpai
Gajah Mada sedang sakit. Lalu disebutkan telah meninggal dunia tahun 1364
Masehi. Raja Hayam Wuruk merasa sangat kehilangan orang yang sangat
dipercayainya dalam memerintah kerajaan.
Kurang lebih hampir
tiga tahun jabatan yang ditinggalkan Gajah Mada dibiarkan kosong, tidak ada
yang sanggup menggantikannya sebagai patih kerajaan yang amat setia. Akhirnya
atas saran kerajaan, Raja Hayam Wuruk pun megadakan sidang Dewan Sapta Prabu
untuk mencari pengganti mahapatih kerajaan Majapahit.
Sampai kemudian Raja
Hayam Wuruk memilih empat Mahamantri Agung dibawah pimpinan Punala Tanding
untuk membantunya mengurus urusan negara. Akan tetapi hal ini hanya berlangsung
sebentar, Mereka berempat digantikan oleh dua orang menteri yaitu Gajah Enggon
dan Gajah Manguri. Sampai akhirnya Raja Hayam Wuruk mengangkat Gajah Enggon
sebagai Patih Mangkubumi menggantikan posisi dari Gajah Mada.
Perebutan
kekuasaan setelah wafatnya Hayam Wuruk
Pada tahun 1389,
setelah menjalankan pemerintahan kerajaan Majapahit dengan gemilang, Hayam
Wuruk meninggal dunia di usia 55 tahun. Setelah wafatnya Hayam Wuruk, kerajaan
Majapahit pelan-pelan melemah akibat perebutan tahta. Kekuasaan kerajaan
Majapahit diambil alih oleh putrinya yaitu Kusumawardhani (Putri Mahkota yang
lahir dari permaisuri Paduka Sori) yang menikah dengan Wikramawardhana (Bhra
Hyan Wisesa), yang merupakan keponakan dan sekaligus menantu dari raja Hayam
Wuruk. Dan Wikramawardhana lah yang tercatat dalam sejarah menjalankan roda
pemerintahankerajaan Majapahit.
5. Wikramawardhana
Wikramawardhana memulai
masa pemerintahannya tahun 1389, Awalnya Wikramawardhana berkeinginan kelak
tahtanya digantikan oleh anaknya Hyang Wekasing Suka (anak dari pernikahannya
dengan Wikramawardhana dan Kusumawardhani). Namun Hyang Wekasing Suka meninggal
pada tahun 1400 Masehi. Akhirnya Wikramawardhana memutuskan Suhita (anak dari
isteri keduanya, yaitu Bhre Mataram) yang menggantikan tahtanya, karena
Wikramawardhana ingin mengundurkan diri dari pemerintahan dan menjadi pendeta
(Bhagwan).
Terjadi
Perang Paregreg
Kenaikkan Suhita
menjadi Raja Majapahit rupanya menimbulkan kericuhan, yang disebabkan oleh Bhre
Wirabhumi (yang merupakan anak dari selir Hayam Wuruk, kakak satu ayah dari
Kusumawardhani, Ayah dari Bhre Mataram/Mertua dari Wikramawardhana, sekaligus
kakeknya Suhita).
Pada zaman dahulu, anak
dari selir memang tidak mendapatkan tahta kerajaan. Bhre Wirabhumi hanya
diberikan tahta di wilayah Bumi Blambangan oleh ayahnya. Namun Bhre Wirabhumi
masih tidak terima sebagai anak Hayam Wuruk yang masih hidup dan merasa lebih
berhak akan tahta kerajaan daripada cucunya sendiri yaitu Suhita.
Karena alasan inilah
Bhre Wirabhumi menyerang kerajaan Majapahit, Wikramawardhana terpaksa menunda
rencananya untuk menjadi pendeta (Bhagwan). Menurut Pararaton, Bhre Wirabhumi
dan Wikramawardhana bertengkar dan tidak saling bertegur sapa sejak tahun 1401
Masehi. Sampai akhirnya perselisihan antara saudara ini semakin memanas di
Perang Paregreg tahun 1404 Masehi. Paregreg artinya perang setahap demi setahap
dalam tempo lambat. Pihak yang menang pun bergantian, kadang pertempuran
dimenangkan oleh Bhre Wirabhumi, kadang dimenangkan pihak Wrikramawardhana.
Dalam peperangan
awalnya Wikramawardhana dari kadaton kulon sudah mengalami kekalahan, namun
datang bala bantuan dari Bhre Tumapel (dengan gelar Bhra Hyang Parameswara yang
merupakan suami dari Suhita, sekaligus menantu Wikramawardhana) pada tahun 1406
Masehi dan akhirnya berhasil mengalahkan Bhre Wirabhumi dari kadaton wetan.
Karena takut akan
kesalahannya, Bhre Wirabhumi kabur melarikan diri dengan menaiki perahu dan
berhasil dikejar oleh Raden Gajah (bergelar Bhra Narapati) yang merupakan
utusan dari Wiramawardhana yang berhasil membunuh dan membawa penggalan kepala
Bhre Wirabhumi ke istana, lalu dicandikan di Lung bernama Girisa Pura.
Akibat
Perang Paregreg
Setelah kekalahan Bhre
Wirabhumi, akhirnya wilayah kerajaan Majapahit bagian timur yaitu Bala
Blambangan bersatu kembali dengan Majapahit bagian barat. Namun akibat Perang
Paregreg ini membuat kerajaan Majapahit semakin lemah atas daerah-daerah
kekuasaannya. Karena pada saat terjadi perang, kosentrasi pasukan dipindahkan
ke Jawa sehingga tidak ada yang mengambil alih penuh dengan pemisahan-pemisahan
di daerah luar jawa.
Kerajaan Majapahit
terus menerus mengalami kelemahan seperti pada tahun 1405 daerah Kalimantan
Barat berhasil direbut oleh kerajaan Cina, tanpa sedikitpun tindakan dari
kerajaan Majapahit. lalu disusul dengan lepasnya Palembang, Melayu, Malaka yang
berhasil merdeka dari Majapahit karena sudah tumbuh bandar-bandar perdagangan
ramai di daerah mereka. Ditambah lepas pula daerah Brunei yang terletak dekat
dengan Pulau Kalimantan Utara.
Selain itu
Wikramawardhana berhutang ganti rugi pada penguasa cina yaitu Dinasti Ming
akibat terbunuhnya 170 orang cina saat perang paregreg. Atas kecelakaan itu
Wikramawardhana didenda ganti rugi emas 60.000 tahil. Dan sampai tahun 1408,
Wikramawardhana baru mampu mengganti 10.000 tahil saja. Akhirnya karena iba
melihat kondisi kerajaan Majapahit, Kaisar Yung Lo membebaskan denda ganti rugi
tersebut. Peristiwa ini tercatat oleh Ma Huan (sekretaris Ceng Ho) di dalam
bukunya, Ying-ya-sheng-lan.
6. Suhita atau Ratu Ayu
Kencana Ungu
Pada akhirnya
Wikramawardhana memutuskan untuk turun tahta, digantikan dengan Suhita (dengan
gelar Ratu Ayu Kencana Wungu) yaitu anak dari pernikahaan kedua
Wikramawardhana. Suhita pun resmi menjalankan roda pemerintahannya pada tahun
1427 Masehi tanpa ada pemberontakan seperti pada saat Bhre Wirabhumi masih
hidup. Suhita menjalankan pemerintahan kerajaan Majapahit bersama Bhra Hyang
Parameswara Ratnapangkaja. Suhita merupakan penguasa wanita kedua setelah Ratu
Tribuana Tungga Dewi.
Pada masa
pemerintahannya terjadi pemberontakan yang dipimping oleh Bhra Daha, namun
pemberontakan itu mampu diselesaikan oleh Suhita. Suhita juga membalas dendam
dengan membunuh Raden Gajah yang telah membunuh kakeknya yaitu Bhre Wirabhumi.
Suhita berhasil
mengembalikan kejayaan kerajaan Majapahit yang melemah itu, terbukti di masa
pemerintahan Suhita kegiatan keagamaan ajaran Hindu berkembang pesat, Suhita
membangun banyak tempat pemujaan dengan bangunan punden berundak di lereng
gunung Lawu termasuk batu untuk persajian, tugu batu, menhir dan sebagainya.
Ditambah lagi banyak candi yang dibangun, seperti canti sukuh dan cetu, dan
sejumlah arca, patung, relief juga dibangun.
Selain itu pada roda
pemerintahannya Suhita mampu memperluas banyak wilayah kerajaan Majapahit di
pulau Jawa, termasuk Blambangan yang berhasil ditaklukan. Kadipaten Blambangan
yang dipimpin oleh Kebo Mercuet terus meminta wilayahnya kepada kerajaan
Majapahit.
Persaingan
akibat Sayembara yang dilakukan Suhita
Saat itu keberadaan
Kebo Mercuet kian lama menjadi ancaman untuk Suhita dan membuatnya cemas.
Semenjak itu Suhita melakukan sayembara untuk siapapun yang mampu mengalahkan
Kebo Mercuet akan dijadikan suami Suhita, Ratu Majapahit.
Sayembara itu berhasil
dimenangkan oleh Joko Umbaran dengan membunuh Kebo Mercuet dengan senjata gada
wesi kuning, Joko Umbaran(dengan gelar Minak Jinggo)pun menggantikan tahta Kebo
Mercuet menjadi Adipati Blambangan. Namun Suhita melanggar janji di
sayembaranya, Suhita menolak menikah dengan Jaka Umbaran karena wajahnya rusak,
kakinya pincang akibat perang melawan Kebo Mercuet.
Jaka Umbaran terus
memaksa untuk menikahi Suhita, padahal ia sudah memiliki dua selir yaitu Dewi
Wahita dan Dewi Puyengan dan ratu idamannya Suhita terus bersikeras menolak
pinangannya. Hingga akhirnya Jaka Umbaran marah besar dan merebut wilayah
kekuasaan kerajaan Majapahit sampai ke Probolinggo dan terus menyerang ibukota
pemerintahanan kerajaan Majapahit.
Atas aksi Jaka Umbaran
yang semakin meresahkan, membuat Suhita kembali membuat sayembara untuk
siapapun yang mampu membunuh Jaka Umbaran, kelak akan dijadikan suami Suhita,
Ratu Majapahit. Pada saat itu ada pemuda tampan yaitu Damarwulan memenuhi
sayembara dengan melawan Jaka Umbaran, dalam pertarungan itu Damarwulan
berhasil memenggal kepala Jaka Umbaran, namun anehnya kepala Jaka Umbaran selalu
kembali pada tempat semula berulang kali.
Hingga akhirnya
Damarwulan kalah dan pingsan terkena pusaka gada wesi kuning milik Jaka
Umbaran. Damarwulan pun dimasukkan ke dalam penjara akibat kekalahnya, namun
rupanya kedua selir Jaka Umbaran tertarik dengan Damarwulan yang tampan, mereka
membersihkan luka Damarwulan dan membuka kesaktian Jaka Umbaran ada di pusaka
gada wesi kuning.
Atas perintah dan
rayuan Damarwulan akhirnya kedua selir Jaka Umbaran mau menuruti perintahnya
untuk mengambil pusaka gada wesi kuning saat Jaka Umbaran sedang terlelap.
Akhirnya Damarwulan meemilki senjata pusaka itu dan siap menantang Jaka Umbaran
kembali. Jaka Umbaran yang melihat Damarwulan memiliki senjata pusakanya tidak
mampu melakukan perlawanan dan akhirnya berhasil dikalahkan. Akhirnya Adipati
Blambangan itu tewas oleh senjata pusakanya sendiri. Damarwulan memenggal
kepala Jaka Umbaran dan mempersembahkannya kepada Ratu Suhita.
Ratu Suhita pun wafat
pada tahun 1447 Masehi dan dibuatkan
candi di Singhajaya dan arca Ratu Suhita yang disimpan di Museum Nasional.
Pemimpin kerajaan Majapahit selanjutnya diambil kuasa oleh adiknya Ratu Suhita
yaitu Dyah Kertawijaya.
Raja-Raja
Majapahit
Berikut ini adalah
daftar Penguasa Majapahit. Terdapat periode yang kosong antara pemerintahan
Rajasawardhana (Raja ke-8) dan Girishwadhana. Diperkirakan penyebabnya karena
krisis sukesi yang membuat keluarga kerajaan Majapahit terbelah menjadi dua
kelompok.
Raden Wijaya bergelar Kertarajasa
Jayawardhana (1293 – 1309)
Kalagamet bergelar Sri Jayanagara (1309 –
1328)
Sri Gitarja bergelar Tribhuwana
Wijayatunggadewi (1328 – 1350)
Hayam Wuruk bergelar Sri Rajasanagara (1350
– 1389)
Wikramawardhana bergelar Bhra Hyan Wisesa
(1389 – 1429)
Suhita bergelar Ratu Kencana Wungu (1429 –
1447)
Kertawijaya bergelar Brawijaya I (1447 –
1451)
Rajasawardhana bergelar Brawijaya II (1451
– 1453)
Purwawisesa atau Girishawardhana bergelar
Brawijaya III (1456 – 1466)
Pandanalas atau Suraprabhawa bergelar
Brawijaya IV (1466 – 1468)
Kertabumi bergelar Brawijaya V (1468 –
1478)
Girindrawardhana bergelar Brawijaya VI
(1478 – 1498)
Hudhara bergelar Brawijaya VII (1498-1518)
Masa Keruntuhan kerajaan Majapahit
Masa keruntuhan
kerajaan Majapahit awal mulanya semenjak ditinggal oleh Hayam Wuruk dan
Mahapatih Gajah Mada, yang membawa kerajaan Majapahit ke puncak gemilang.
Kemunduran kerajaan Majapahit juga disebabkan karena perebutan kekuasaan oleh
keturanan-keturunan Hayam Wuruk, ditambah pertikaian dan gempuran dari
kerajaan-kerajaan Islam yang mulai bermunculan. Pada akhirnya pada tahun 1518
runtuhlah kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Patih Hudhara, yang
bergelar Brawijaya ke-7.
Berikut
ini bangunan candi peninggalan kerajaan Majapahit:
Candi Sukuh – merupakan
peninggalan kerajaan Majapahit yang pertama, terletak di Desa Berjo, Kecamatan
Ngargoyoso, Karanganyar-Jawa Tengah.
Candi Cetho – berlokasi
di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar-Jawa Tengah.
Candi Pari – berlokasi
di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Sidoarjo – Jawa Timur sekitar 2 km arah
Barat Laut dekat semburan pusat lumpur panas Lapindo Brantas.
Candi Jabung –
berlokasi di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Probolinggo-Jawa Timur.
Gapura Wringin Lawang –
berlokasi di Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan, Mojokerto-Jawa Timur.
Gapura Bajang Ratu –
berlokasi di Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Mojokerto-Jawa Timur.
Candi Brahu – berlokasi
di kawasan situs arkeologi Trowulan, tepatnya berada di Dukuh Jambu Mente, Desa
Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto-Jawa Timur.
Candi Tikus – Sama
seperti Candi Brahu berlokasi di kawasan situs arkeologi Trowulan, tepatnya
berada di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Mojokerto-Jawa
Timur.
Candi Surawana- berlokasi di Desa Canggu, Kecamatan Pare,
Kediri-Jawa Timur. Tepatnya berada sekitar 25 km timur laut Kota Kediri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar