Sabtu, 06 Juli 2019

Sejarah Jakarta Sebagai Ibukota


Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang kita kenal sebagai Ibukota Republik Indonesia terletak di Pulau Jawa diantara Provinsi Banten dan Provinsi Jawa Barat. Memiliki luas sebesar 664.01 km2 dengan kepadatan penduduk sebanyak 9.992.842 jiwa. Jakarta menempati urutan pertama sebagai kota dengan kepadatan yang paling tinggi. Sang kota metropolitan yang gemerlapnya tak pernah usai hingga membuat ratusan ribu orang rela pergi ke Jakarta untuk suatu perubahan. Dibalik gemerlapnya dan kerasnya kota Jakarta tersimpan banyak sejarah yang tidak kita ketahui.
Jauh sebelum Kota Jakarta bernama Jakarta, kota ini telah lebih dulu mengalami banyak pergantian nama. Nama pertama kali yang dimiliki Jakarta adalah Sunda Kelapa. Bukti mengenai adanya pemukiman penduduk bernama Sunda Kelapa adalah Prasasti Tugu yakni sebuah peninggalan yang tertanam di daerah Jakarta Utara. Prasasti Tugu memiliki hubungan dengan empat prasasti lain yang diyakini berasal dari zaman kerajaan Hindu yakni kerajaan Tarumanegara ketika dipimpin oleh Raja Purnawarman.
Empat prasati tersebut adalah prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Lebak, dan Prasasti jambu. Nama ‘Sunda’ dari kata Sunda Kelapa yang muncul pada abad ke-10 terdapat dalam Prasasti Kebon Kopi II yang diperkirakan ada pada tahun 932 Masehi.
Pada tahun 1030-1579 berdiri sebuah Kerajaan bernama Padjajaran di wilayah Jawa Barat. Keberadaan Kerajaan Padjajaran diketahui tepatnya di daerah batu tulis yang kini bernama kota Bogor. Letak ibukota kerajaan ini dinyatakan dalam prasasti Batu tulis tahun 1433 Masehi.

Kedatangan Bangsa Portugis
Bangsa Portugis tiba di Sunda Kelapa ketika kerajaan Padjajaran tengah berkembang pada 1513 Masehi yang dipimpin oleh De Alvin. Selanjutnya pada perjalanan kedua bangsa Portugis ke Indonesia dengan tujuan awal ingin mencari rempah-rempah yang sangat dibutuhkan di wilayah Eropa yang memiliki musim dingin dan mendirikan benteng perdagangan. Benteng perdagangan itu pun akhirnya berhasil didirikan pada tahun 1522 setelah Portugis melakukan perjanjian yang disebut ‘Luso Sundanese Padrao’ dengan Prabu Surawisesa, seorang Raja Padjajaran.
Setelah perjanjian tersebut, kekuasaan Portugis mengalami perkembangan yang membuat kerajaan-kerajaan lain merasa terganggu dan melakukan penyerangan pada tahun 1526-1527 antara Kerajaan Demak yang dibantu oleh Kerajaan Cirebon dibawah kepimpinan Pangeran Fatahillah. Portugis kalah dalam serangan tersebut dan Sunda Kelapa jatuh ke tangan Pangeran fatahillah yang kemudian pada 22 Juni 1527 ia mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Pada tanggal inilah yang kemudian diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta.
Bangsa Portugis yang kalah dalam penyerangan dipaksa harus meninggalkan Jayakarta. Kemudian datanglah bangsa Eropa kedua yakni bangsa Belanda yang dipimpin Cornelis De Houtman dengan tujuan yang serupa dengan bangsa Portugis yani mencari rempah-rempah dan memperdagangkannya. Perdagangan yang terjadi di pelabuhan Jayakarta saat itu tidak teratur dan menyebabkan Belanda kalah dari Inggris yang juga datang ke bumi Hindia (sebutan Indonesia pada saat itu). akhirnya Belanda mengatur strategi untuk membuat sebuah persekutuan dagang bernama Verednigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1602.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar